Kondisi Umum Perekonomian Indonesia ( 3/14 )

( Merupakan materi ke 3 dari Contoh Kasus : Merancang Balanced Scorecard Pada PT. Bank Syariah ABC )

Setelah mengalami krisis sejak pertengahan tahun 1997, gejala stabilisasi perekonomian mulai terlihat di tahun 1999. Indikatornya antara lain perlambatan laju inflasi dan membaiknya pertumbuhan ekonomi, menurut data BPS, tingkat inflasi pada periode ini adalah sebesar 2,01% dimana tahun sebelumnya angka tersebut sempat mencapai 77,6%. Pertumbuhan ekonomi yang semula anjlok sebesar (13,6%), diperkirakan juga bisa tumbuh positif pada tingkat 0,12%.

Namun demikian, dibandingkan dengan Thailan dan korea yang juga mengalami krisis pada waktu yang sama, pemilihan ekonomi indonesia tertinggal sekitar 1 hingga 1 1/2 tahun. Kedua negara tersebut sudah mengalami pertumbuhan ekonomi positif yang cukup besar sehingga mereka berani melepaskan diri dari program IMF.

Ketertinggalan itu lebih diakibatkan adanya gejolak ekonomi dan politik yang tidak kunjung reda. Hal ini terlihat di tahun 2000, inflasi meningkat ( Januari – Desember 2000 ) menjadi 9,35% dan 7,48% di tahun 2001 ( januari – agustus 2001 ). Pertumbuhan ekonomipunmenurun dari 4,8% ditahun 2000 menjadi sekitar 3,5% ditahun 2001.

Ketertinggalan kita juga terlihat dari gejolak mata uang rupiah yang masih terus berlangsung dengan tingkat volatilitas yang sangat tinggi. Rupiah memang sempat menguat Rp. 6.800,- per USD sejak pemilu sampai setelah pemilihan presiden di tahun 1999, namun kemudian melemah kembali menjadi Rp. 7.300,- per USD pada pertengahan desember 1999. Volatilitas ini terus berlanjut bahkan nilai rupiah di akhir tahun 2001 ini berada di kisaran Rp. 10.500,- per USD, nilai tukar yang jauh lebih tinggi di bandingkan fair value – nya.

Demikian pula dengan Index Harga Saham Gabungan ( IHSG ) di Bursa Efek Jakarta yang sempat menembus angka 700 setelah Pemilu, kembali melemah sampai dibawah 600, bahkan sempat dibawah 400 di tahun 2001. Selain itu, antara bulan januari sampai september 1999, aliran modal swasta masih defisit 16,1 milyard USD, atau lebih tinggi 10,1 milyard USD dari tahun sebelumnya. Banyak analis mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh berlanjutnya dinamika sosial dan politik di tanah air.

Bersambung ke 4/14

Iklan